BAHASA SASTRA DAN TEKS SASTRA

π”π”žπ”­π”¬π”―π”žπ”« π”…π”žπ” π”žπ”žπ”« π”“π”’π”«π”€π”žπ”«π”±π”žπ”― π”“π”’π”«π”€π”¨π”žπ”§π”¦π”žπ”« π”¨π”’π”°π”²π”°π”žπ”°π”±π”―π”žπ”žπ”« (3)
𝔒𝔩𝔒π”₯ :
• π”‘π”žπ”ͺπ”ž : 𝔄π”ͺπ”’π”©π”¦π”ž π”œπ”²π”«π”¦π”·π”ž 𝔓𝔲𝔱𝔯𝔦
• 𝔑ℑ𝔐 : 21016057
• 𝔇𝔬𝔰𝔒𝔫 π”“π”’π”«π”€π”žπ”ͺ𝔭𝔲 : 𝔇𝔯. π”„π”Ÿπ”‘π”²π”―π”―π”žπ”₯π”ͺπ”žπ”«, 𝔐.𝔓𝔑

I. PENDAHULUAN

Bahasa sastra adalah penghubung antara sesama anggota masyarakat dalam kegiatan sosial dan kebudayaan, tetapi gaya bahasa dalam kesusastraan berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa sastra berbeda dengan bahasa pidato politik, bahasa surat kabar, atau bahasa buku teks.

Bahasa sebagai media pengucapan yang mampu menimbulkan kesan, keindahan amat dipentingkan dalam suatu karya sastra. Kemampuan mengeksploitasi bahasa dalam segala dimensilah yang membedakan karya sastra dengan karya-karya yang lain.

Para tokoh strukturalis pernah mengatakan, dalam karya sastra dapat didekati dari dua segi. Segi pertentangan dengan bentuk dan pemakaian bahasa. Kedua segi seni dalam kaitan dan pertentangannya dengan bentuk-bentuk seni yang lain.Mendekati sastra dari segi seni  berarti mendekati sastra dari segi estetik atau keindahan. Akan tetapi sastra lebih ditekankan pada aspek bahasanya karena aspek seni pada sastra melekat pasa penggunanan bahasa itu sendiri. Bahasa pada sastra, tidak sama dengan cat, gerak atau bahan baku seni yang lain. Karena bahasa sebelum digunakan dalam sastra telah mempunyai makna yang mau tak mau melandasi penciptaan sastrawan.

II. PEMBAHASAN

1. Kaidah sastra

Waluyo, (1994: 56-58) mengatakan bahwa kaidah sastra atau daya tarik sastra terdapat pada unsur-unsur karya sastra tersebut.Pada karya cerita fiksi, daya tariknya terletak pada unsur ceritanya yakni cerita atau kisah dari tokoh-tokoh yang diceritakan sepanjang cerita yang dimaksud. Selain itu, faktor bahasa juga memegang peranan penting dalam menciptakan daya pikat.Kemudian gayanya dan hal-hal yang khas yang dapat menyebabkan karya itu memikat pembaca.

A. Bahan Baku Teks Sastra

Bahan baku karya sastra adalah
bahasa. Sastrawan mengolah bahasa agar menjadi indah dan bernilai seni. Sebab,
keindahan itulah yang menyebabkan karya sastra disebut karya seni, yaitu seni sastra.
Cara sastrawan menggunakan bahasa untuk menulis karya sastra berbeda dengan
cara penulis lain untuk menghasilkan karya ilmiah. Penulis karya ilmiah bertujuan
menyampaikan gagasan kepada pembaca. Karena itu, kata-kata yang dipilih dalam
rakitan kalimatnya dibuat sedemikian rupa agar pembaca karya ilmiah dapat cepat
menangkap dan memahami gagasan penulis. Lain halnya dengan sastrawan. Sastrawan
menulis bukan hanya untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca, melainkan juga
menyampaikan perasaannya.

B. Perkembangan Defenisi Teks Sastra

Teks sastra adalah teks-teks yang disusun 
dengan tujuan artistik dengan 
menggunakan bahasa. Bahasa yang 
digunakan terdiri atas bahasa lisan dan 
bahasa tulis. Oleh karena itu, ada sastra 
lisan dan ada pula sastra tulis. Kajian ini 
berfokus pada kajian sastra tulis.Bahasa yang digunakan terdiri atas bahasa lisan
dan bahasa tulis. Oleh karena itu, ada sastra lisan dan ada pula sastra tulis.
Kajian ini berfokus pada kajian sastra tulis. Teks sastra berdasarkan ragamnya
terdiri atas beberapa genre. Klasifikasi genre sastra itu didasarkan atas dasar kategori situasi bahasa. Berdasarkan situasi bahasa itulah sastra diklasifikasikan atas teks puisi, teks naratif atau prosa, dan teks drama.


C. Bahasa Sastra VS Bahasa Keseharian

Bahasa sastra menggunakan bahasa kedua, sedangkan bahasa ke seharian
menggunakan bahasa pertama. Karena bahasa sastra adalah bahasa yang digunkan oleh
para sastrawan untuk membuat beberapa buku, menggunakan bahasa baku, dan pemilihan
beberapa kata dan kalimat. Sedangkan bahasa keseharian menggunakan bahasa yang
tidak menggunakan bahasa baku atau bahasa percakapan yang sering dilakukan oleh
orang lain atau masyarakat.


D. Bahasa Sastra VS Bahasa Ilmiah

Karya sastra dapat dinikmati sampai kapanpun meskipun berbeda zaman , karena
terkandung nilai-nilai yang masih relevan untuk dipelajari atau dipraktikkan. Sedangkan
nonsastra (ilmiah) akan berkembang terus menerus dari waktu ke waktu. Bahasa sastra
adalah bahasa yang bersifat khayal/imajinatif atau subjektif karena sastra dciptakan oleh
pengarang, dan pengarang tersebut memiliki hak penuh dalam menciptakan suatu karya
sastra. Sedangkan bahasa ilmiah (nonsastra yang lebih bersifat nyata atau objektif).
Karena hasil karya imliah dapat diperoleh berdasarkan fakta-fakta yang sudah ada dan
disepakati kebenarannya secara umum.

E. Karakteristik Bahan Baku Teks Sastra 

Karakteristik bahasa memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan konteks
penggunaannya. Purwadarminto membedakan bahasa menjadi beberapa macam yaitu,
ragam bahasa umum dan ragam bahasa khusus. Ragam bahasa umum adalah ragam
bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh manusia dalam suatu
masyarakat. Ragam bahasa khusus dikelompokan menjadi beberapa macam, yaitu ragam
bahasa jurnalistik, ragam bahasa jabatan, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra.
Semuanya memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang berbeda-beda. Misalnya, ragam
bahasa jurnalistik memiliki ciri-ciri singkat, padat, sederhana, lugas, jelas, jernih,
menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata
dan istilah asing, pilihan kata (diksi) yang tepat, menggunakan kalimat aktif, menghindari
kata atau istilah teknis, dan tunduk pada etika dan kaidah yang berlaku di masyarakat.

2. Teks dan Penggunaan Bahasa

A. Hakikat Teks Sebagai  Ilmu (Tekstologi)

Tekstologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk teks,yang antara lain meneliti penjelmaan dan penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, dan pemahamanya.

Teks merupakan bagian dari naskah, teks adalah sesuatu yang abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja.teks senidiri terdiri dari 2 unsur yakni isi dan bentuk, di dalam isi memuat ide-ide atau amanat yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. Sedangkan bentuk, yaitu cerita dalam teks yang dapat dibaca dan dipelajari  menurut berbagai pendekatan melalui alur, perwatakan, gaya bahasa, dan sebagainya. 

B. Ciri Khas Suatu Teks

Apakah yang disebut teks? Teks ialah ungkapan bahasa yang menurut pragmatik, sintatik, dan semantik/isi merupakan suatu kesatuan. Dalam praktik ilmu sastra, kita membatasi diri pada teks tertulis dengan alasan agar praktis. Secara teoritis, ungkapan bahasa lisan pun, asal merupakan suatu kesatuan, termasuk teks. Kesatuan dibatasi menurut tiga aspek berikut.
Pragmatik ialah bagaimana bahasa dipergunakan dalam suatu konteks sosial tertentu. Adapun yang dimaksud atau disebut pragmatik yaitu pengetahuan mengenai perbuatan yang kita lakukan bilamana bahasa digunakan dalam suatu konteks. Istilah ini tidak  sinonim dengan praktis seperti yang dimaksudkan dalam penggunaaan bahasa sehari-hari. Secara sintatik sebuah teks harus memperlihatkan keburuntutan dan harus relevan. Hal ini antara lain tampak bila unsur-unsur penunjuk secara konsisten di pergunakan. Perhatikanlah contoh berikut:

Adik  memdapat hadiah pada hari ulang tahunnya. La merasa bahagia dan bergembira.

Kata ia pada kalimat kedua mengacu pada adik pada kalimat pertama. Kalau tidak, maka tidak ada kebertautan dan kita menghadapi dua kalimat yang lepas satu sama lain dan bukan satu (fragmen) teks. Kebertautan ini memang wajar sehingga acapkali tidak kita sadari dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Apalagi bila pemancar (pembicara) dan penerima (pendengar) berada dalam situasi yang sama dengan keuntungan (kelebihan) penggunaan bahasa secara lisan. Secara tidak sadar kita menggunakan kriterium ini bila kita memahami ungkapan-ungkapan bahasa. Andaikata ini tidak terjadi, maka penggunaan bahasa jadi lebih menyusahakan. Segala pertalian harus dieksplisitkan.
Kesatuan semantik  (isi) yang dituntut sebuah teks adalah tema global yang melingkupi semua unsure. Tema menunjukan gagasan dasar dan tujuan utama penulisan sebuah teks. Dengan kata lain, tema atau perbuatan berfungsi sebagai ikhtisar teks atau perumusan simboliknya.
Isi dalam teks sangat berkaitan dengan semantik. Semantik merupakan salah satu kajian dalam bahasa yang berkaitan dengan makna. Isi dalam teks tidak ubahnya adalah makna-makna yang disampaikan pengarang. Pengungkapan makna ini dapat dilakukan secara terang-terangan, lugas, jelas maupun dengan tersembunyi melalui simbol-simbol. Berkaitan dengan makna dalam teks, Luxemburg, et.al. (1992:88) menyatakan bahwa kesatuan semantik yang dituntut sebuah teks ialah tema global yang melingkupi semua unsur. Dengan kata lain, tema atau perbuatan berfungsi sebagai ikhtisar teks atau perumusan simboliknya. Meskipun demikian, menunjukkan tema saja belumlah memadai.  Masih diperlukan penafsiran menyeluruh untuk menelaah sebuah  teks sebagai satu kesatuan. Hal ini terkait dengan keberadaan sebuah cerita maupun puisi yang merupakan satu kesatuan ide/gagasan.
Kedua adalah sintaksis. Sintaksis dalam tatabahasa diartikan sebagai tatakalimat. Secara sintaksis sebuah teks harus memperlihatkan pertautan. Pertautan itu akan tampak apabila unsur-unsur dalam tatabahasa yang berfungsi sebagai penunjuk (konjungsi) secara konsisten dipergunakan. Dalam hal ini dapat kita simak melalui penceritaan berikut.
“Cukup! Rupanya inilah hal terpenting mengapa kamu datang kemari. Rupanya kamu sedang mendambakan punya menantu seorang guru. Sebenarnya kamu harus menolak begitu mendengar pesan Pak Sambeng itu. Satu hal kamu tak boleh lupa: Jangan sekali-kali menyuruh orang bercerai. Juga jangan lupa, Darsa adalah kemenakan suamimu. Salah-salah urusan, malah kamu dan suamimu ikut kena badai. Oh, Mbok Wiryaji, aku tak ikut kamu bila kamu punya pikiran demikian. Aku hanya berada di pihakmu bila kamu terus berikhtiar dan berdoa untuk kesembuhan Darsa.” (Tohari, 2005:60—61)
Pada  kutipan di atas, konjungsi yang berupa kata ganti “kamu” sangat dominan dalam cerita di atas. Keberadaan kata ganti “kamu” pada kalimat satu, dua, tiga, empat, enam, tujuh, dan delapan menunjukkan bahwa antarkalimat dalam penceritaan di atas sangat koheren. Hal ini sangat memudahkan pembaca untuk menelaah karya sastra tersebut. Bahkan untuk memudahkan pemahaman digunakan pula bentuk klitik “mu” (sebagai bentuk singkat dari kata “kamu”). Penggunaan itu terlihat pada  kata “suamimu” dalam kalimat kelima dan keenam; kata “pihakmu” pada kalimat kedelapan. Penggunaan kata ganti tersebut sangat dieksplisitkan (jelas). Tentu tidak dapat dibayangkan susahnya memahami hubungan antarkalimat apabila konjungsi yang menunjukkan koherensi antarkalimat diimplisitkan (samar-samar atau tersembunyi).
Penggunaan kata ganti sebagai konjungsi juga dapat ditemukan dalam puisi. Seperti halnya dalam cerita, keberadaan kata ganti ini juga lebih memudahkan untuk memahami puisi. Simaklah puisi Rendra (1993:13) berikut ini.
Nyanyian Suto untuk Fatima
Dua puluh tiga matahari
bangkit dari pundakmu.
Tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyalalah sukmaku.
Langit bagai kain tetoron yang biru
terbentang
berkilat dan berkilauan
menantang jendela kalbu yang berdukacita.
Rohku dan rohmu
bagaikan proton dan electron
bergolak
bergolak
di bawah duapuluhtiga matahari.
Dua puluh tiga matahari
membakar dukacita.
Meskipun pada setiap larik puisi di atas tidak ditemukan kata Suto dan Fatima, tetapi sangatlah mudah bagi kita untuk memahami teks puisi di atas dengan memperhatikan klitik yang terdapat pada teks di atas. Klitik “ku” merupakan kata ganti dari Suto, sedangkan klitik “mu” merupakan kata ganti dari Fatima.
Begitulah pentingnya sintaksis dalam sebuah teks. Yang terpenting adalah kekonsistenan dari konjungsi sehingga tidak merancukan kalimat-kalimat yang membangun cerita atau kosakata, parafrase, ataupun kalimat yang membangun puisi. Dua kutipan di atas, baik cerita maupun puisi menunjukkan kekonsistenan dari konjungsi — kata ganti dan klitika — yang digunakan.
Ketiga adalah pragmatik. Pragmatik berkaitan dengan situasi atau keadaan bahasa yang digunakan dalam keadaan tertentu. Dalam hal ini, Luxemburg, et.al. (1992:87) mengungkapkan bahwa pragmatik bertalian dengan bagaimana bahasa dipergunakan dalam suatu konteks sosial tertentu; teks merupakan suatu kesatuan bilamana ungkapan bahasa oleh para peserta komunikasi dialami sebagai suatu kesatuan yang bulat. Lebih lanjut dikatakannya bahwa  pragmatik merupakan ilmu mengenai perbuatan yang kita lakukan bilamana bahasa dipergunakan dalam suatu konteks tertentu.  Hal yang diungkapkan Luxemburg tersebut bertalian erat dengan ketuntasan dalam memahami sebuah teks. Makna kesatuan bulat mengarah pada keutuhan dari sebuah teks. Membaca teks merupakan satu tindakan atau kegiatan yang dimulai dari bagian awal hingga bagian akhir dari sebuah teks, yaitu: “selesai” atau “tamat”. Sebuah contoh, apabila kita membaca novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh yang ditulis Dewi Lestari maka kegiatan yang kita lakukan adalah membaca keseluruhan dari teks novel ini. Mulai membaca bagian Cuap-cuap Penerbit, Cuap-cuap Penulis, Bagian Daftar Isi, isi keseluruhan novel yang terdiri atas 33 keping subjudul, hingga Komentar Nonpakar yang merupakan akhir dari teks novel ini. Begitu halnya kalau kita membaca puisi, cerpen, maupun drama maka keselurahan dari teks tersebut harus kit abaca dengan saksama. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman yang tepat tentang isi atau garis besar dari penceritaan tersebut.
Begitu halnya apabila kita bertindak sebagai pengarang. Yang kita lakukan adalah mengarang dengan sistematika yang tepat. Sistematika yang menjelaskan bagian awal, bagian inti atau isi, kemudian bagian akhir sebagai pertanda bahwa teks yang kita buat telah selesai atau berakhir. Keteraturan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya harus ditunjukkan secara tepat. Begitu halnya dengan bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tersusun atas deretan kata, gabungan kata, dan atau kalimat yang mudah dimengerti oleh pembaca.

C. Jenis-jenisnya Teks dalam kaidah Tekstologi

Kalau kita lihat berdasarkan masa perkembangannya, teks yang pertama 
ada adalah teks lisan, teks lisan lahir dari cerita-cerita rakyat yang diturunkan 
secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui tradisi mendongeng. 
Teks lisan berkembang menjadi teks naskah tulisan tangan yang merupakan 
kelanjutan dari tradisi mendongeng, cerita-cerita rakyat yang pernah dituturkan 
disalin ke dalam sebuah tulisan dengan menggunakan alat dan bahan yang 
sangat sederhana dan serta menggunakan aksara dan bahasa daerahnya masing-
masing. Teks naskah tulisan tangan ini masih tradisional, setelah ditemukannya 
mesin cetak dan kertas oleh bangsa Cina maka perkembangan teks pun menjadi 
lebih maju, pada masa ini orang tidak harus susah-susah menyalin sebuah teks, 
tetapi teks-teks sangat mudah diperbanyak dengan waktu yang tidak lama maka 
lahirlah teks-teks cetakan.

D. Kaidah Teks Sastra dalam kajian Tekstologi
 
Ada sepuluh prinsip Lichacev yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk penelitian tekstologi yang pernah diterapkan terhadap karya-karya monumental sastra lama Rusia (Baried. 1985:57). Kesepuluh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tekstologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki sejarah teks suatu karya. Salah satu di antara penerapannya yang praktis adalah edisi ilmiah
teks yang bersangkutan;
2. Penelitian teks harus didahulukan dari penyuntingannya;
3. Edisi teks harus menggambarkan sejarahnya;
4. Tidak ada kenyataan tekstologi tanpa penjelasannya;
5. Secara metodis perubahan yang diadakan secara sadar dalam sebuah teks (perubahan ideology, artistic, psikologis, dan lain-lain) harus didahulukan daripada perubahan mekanis, misalnya kekeliruan tidak sadar oleh seorang penyalin;
6. Teks harus diteliti sebagai keseluruhan (prinsip kekompleksan pada penelitian teks);
7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks (dalam naskah) harus diikutsertakan dalam penelitian;
8. Perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monumen sastra lain;
9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan skriptoria-skriptoria (sanggar penulisan/penyalinan: biara, madrasah) tertentu harus diteliti secara menyeluruh;
10. Rekonstruksi teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskah-naskah.

III. KESIMPULAN

Bahasa sebagai media pengucapan yang mampu menimbulkan kesan, keindahan amat dipentingkan dalam suatu karya sastra.
Sastrawan mengolah bahasa agar menjadi indah dan bernilai seni. Sebab,
keindahan itulah yang menyebabkan karya sastra disebut karya seni, yaitu seni sastra. Kemampuan mengeksploitasi bahasa dalam segala dimensilah yang membedakan karya sastra dengan karya-karya yang lain. Purwadarminto membedakan bahasa menjadi beberapa macam yaitu,
ragam bahasa umum dan ragam bahasa khusus.

IV. DAFTAR PUSTAKA
Trigonal Media. 2014. "Pengertian dan Ciri-Ciri Bahasa Sastra".  https://www.trigonalmedia.com/2015/08/pengertian-dan-ciri-ciri-bahasa-sastra.html?m=1.
(Diakses pada Selasa, 7 September 2021 pukul 12.10)
Analisa Daili. 2021. "Bahasa dan Makna dalam Keindahan Teks Sastra".
https://analisadaily.com/berita/arsip/2014/1/26/1421/bahasa-dan-makna-dalam-keindahan-teks-sastra/. (Diakses pada Selasa, 7 September 2021 pukul 12.14).
Nainggolan, Sarma. 2016. "Kaidah Sastra"
http://sarmanainggolan.blogspot.com/2016/05/kaidah-sastra.html?m=1.
(Diakses pada Selasa, 7 September 2021 pukul 12.42).
Syabudi, Wahyu. 2019. "Teknologi dan tugas filologi". http://wahyu-styabudi.blogspot.com/2019/02/tekstologi-dan-tugas-filoloi.html?m=1.
(Diakses pada Selasa, 7 September 2021 pukul 12.58).
Rizal, fach. 2013. "Karya sastra sebagai suatu teks".
http://ichalmild.blogspot.com/2013/03/karya-sastra-sebagai-suatu-teks.html?m=1.(Diakses pada Selasa, 7 September 2021 pukul 13.05).
Permadi, Tedi. "Teks, Tekstologi, dan Kritik Teks".
Akidah, Siti Nur. 2016. "Karya Sastra Modern dan Klasik", http://sitinurakidah311.blogspot.com/2016/03/?m=1, diakses pada 7 September 2021 pukul 12.00


Komentar

Postingan populer dari blog ini

π•³π–†π–π–Žπ–π–†π–™ π•Ύπ–†π–˜π–™π–—π–†

π•»π–šπ–Žπ–˜π–Ž

Interpretasi Sastra