Genre Sastra(Klasik Nusantara)

π”π”žπ”­π”¬π”―π”žπ”« π”…π”žπ” π”žπ”žπ”« π”“π”’π”«π”€π”žπ”«π”±π”žπ”― π”“π”’π”«π”€π”¨π”žπ”§π”¦π”žπ”« π”¨π”’π”°π”²π”°π”žπ”°π”±π”―π”žπ”žπ”« (6)
𝔒𝔩𝔒π”₯ :
• π”‘π”žπ”ͺπ”ž : 𝔄π”ͺπ”’π”©π”¦π”ž π”œπ”²π”«π”¦π”·π”ž 𝔓𝔲𝔱𝔯𝔦
• 𝔑ℑ𝔐 : 21016057
• 𝔇𝔬𝔰𝔒𝔫 π”“π”’π”«π”€π”žπ”ͺ𝔭𝔲 : 𝔇𝔯. π”„π”Ÿπ”‘π”²π”―π”―π”žπ”₯π”ͺπ”žπ”«, 𝔐.𝔓𝔑

I. PENDAHULUAN

Pada awalnya bentuk sastra merupakan cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan turun temurun. Menurut A. Ikram, dalam bukunya Filologi Nusantara (Jakarta: Pustaka Jaya 1991, hal. 220) Sekarang cerita rakyat ditulis dan diterbitkan menjadi buku, seperti halnya cerpen atau novel.

Sastra melayu klasik sebenarnya merupakan karya sastra indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 sampai dengan tahun 1942, yang pada waktu itu berkembang dilingkungan masyarakat sumatera seperti “minangkabau,langkat, tapanuli  dan daerah sumatera lainnya”, orang tionghoa dan masyarakat indo-eropa.

II. PEMBAHASAN

A. Genre Sastra Klasik Nusantara 

Sastra Melayu klasik memeliki heterogenitas dalam sisi fungsional terhadap para pembaca. Dalam kesusastraan melayu klasik terjadi sebuah perkembangan sastra yang cukup pesat. Diantara beberapa karya sastra melayu klasik yang dapat digolongkan dalam lingkup faedah adalah dari beberapa genre sastra sebagai berikut : hikayat berbingkai, hikayat bahtiar, hikayat pelanduk jenaka, karya sastra tersebut bertujuan untuk membimbing tingkah laku orang melayu secara benar. Ada tiga aspek yang bisa dibedakan dari masing-masing karya sastra ditinjau dari aspek resepsinya terhadap pembaca.
          1. Aspek estetika atau keindahan
karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek estetika jika sastra tersebut mampu membangkitkan keseimbangan perasaan dalam jiwa pembacanya, dengan jalan mempengaruhinya melalui keindahan yang inheren pada struktur verbal dan struktur mental karangan sastra, melalui keindahan bunyi dan isinya.
          2. Aspek faedah atau didaktis
Karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek faedah atau didaktis jika sastra tersebut mampu mempengaruhi akal pikiran pembacanya, mampu menggiring pikiran pembaca.
          3. Aspek kesempurnaan rohani
karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek faedah atau didaktis jika sastra tersebut mampu meneguhkan iman pembaca, menjelaskan hukum agama, dogma dan metafisika Islam kepadanya, sehingga pembaca menjadi lebih baik keteguhan imannya.
Pemaparan yang telah disajikan dalam makalah ini juga menunjukkan bahwa kesusastraan Melayu klasik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Muli dari proses tarnsisi budayanya dari hinduisme-budhiesme menuju Islam. Kesusastraan Melayu klasik mencapai puncak keemasannya sejalan dengan berkembang pesatnya ajaran Islam di Nusantara. Dari berbagai karya sastra yang dihasilkan, karya sastra yang bercorak tasawuf lebih mendonisasi, baik sastra prosa maupun puisi. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islam khususnya tasawuf dalam diri para sastrawan Melayu klasik.

B. Karakteristik Sastra Klasik Nusantara

Ciri umum pada Sastra melayu klasik :
1. Mayoritas hasil sastranya merupakan saduran atau terjemahan dari sastra Arab dan Parsi, biasanya dikerjakan oleh ulama Nusantara yang belajar ke mekkah, atau pedagang yang telah menetap lama di Nusantara.
2. kebanyakan tidak menyebutkan tanggal, waktu, maupun pengarangnya, hal inilah yang menjadi kendala dalam merekonstruksinya dari awal sampai akhir. Tetapi, sastra tersebut masih dapat diidentifikasi lewat huruf, gaya bahasa, dan latar kejadian.
3. Karya sastra melayu klasik yang muncul pada zaman kesultanan ini umumnya membawa corak Tasawuf, al-Attas (1972) menyatakan bahwa dalam karya-karya mereka, Islam yang dihadirkan adalah Islam yang ditafsirkan mengikuti konsep-konsep Metafisika dan Teologi Sufi.
4. Bersifat lisan
5. Bersifat istana sentris, bersumber dari kehidupan istana atau para raja
6. Penyebarannya secara lisan

C. Contoh-Contoh Teks/Lisan Sastra Klasik Nusantara

1. Soneta

Contoh soneta
Perasaan siapa yang akan menyala.
Lihat seorang anak dengan drum.
Satu di tengah lapangan.
Tidak ada kemeja dengan kepala terbuka.
Ini adalah nasib gembala.
Berlindung di bawah hutan rindang.
Sejak pagi dia sudah meninggalkan kandang.
Kembali ke rumah saat senja.
Sedikit tentang sejauh mana itu.
Saya mendengar suara bel.
Di keindahan alam.
Atau gembala berwarna hijau.
Dengarkan murid Anda sesuai dengan kerbau.
Aku akan menurutimu.

2. Talibun

Sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.
Contoh :       
                                                          
Jalan-jalan membeli celana
celana dibeli model terkini
kubawanya dengan erat
kini engkau jauh di sana
sedih terasa hati ini
menahan rindu begitu berat

3. Karmina

 Jenis pantun singkat yang terdiri hanya 2 baris saja. Pantun karmina berpola a-a.
contoh :
pohon jati burung dara
hati-hati banyak bicara.

4. Stanza

PERTANYAAN KECIL UNTUK ANAK-ANAK

Atau kayu dan dedaunan!
Mengapa kamu bersenang-senang?
Tertawa dengan sukacita?
Dengan angin dan ketenangan, serang?
Apakah angin tertawa bersama kita?
Apakah kita senang dengan cerita yang bagus?
Saya tidak mengerti kesukaanmu!
Kenapa kamu tertawa?

Hai kumbang bernyanyi!
Apa yang kamu nyanyikan?
Kamu terlihat seperti bunga!
Apa yang kamu mainkan?
Apakah dia atau dia gila?
Anda? Mengapa? Bagaimana?
Kenapa kamu tertawa?

5. Sloka

Pikiran yang baik, ibu, Randang.
Perdagangan lalu ditanam.
Tidak ada rumah kayu yang dibongkar.
Bocah itu pulang lapar.
Bayi di pangkuannya dibaringkan.
Monyet hutan diberi ASI.

D. Situasi Bahasa Genre Sastra Klasik Nusantara

Sastra Melayu atau Kesusastraan Melayu adalah sastra yang hidup dan berkembang di kawasan Melayu. Sastra Melayu mengalami perkembangan dan penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang lain. Situasi masyarakat pada jaman sebelum Hindu, jaman Hindu, jaman peralihan dari Hindu ke Islam, dan jaman Islam, berpengaruh kuat pada hasil-hasil karya sastra Melayu. Terjadi hubungan yang erat antara tahap perkembangan, kehadiran genre, dan faktor lain di luar karya sastra.
Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang kebudayaan Hindu.

Yang dimaksud dengan Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.

Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun, dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.

Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.

III. PENUTUP

Sastra Melayu klasik memeliki heterogenitas dalam sisi fungsional terhadap para pembaca. Dalam kesusastraan melayu klasik terjadi sebuah perkembangan sastra yang cukup pesat.

Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah
sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. Kamil ebih suka menyebut sejumlah faktor yang dewasa ini mendorong para pembaca untuk menyebut teks ini sastra dan teks ini bukan sastra.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Merry. 2021. Contoh Sastra Melayu Klasik.
https://majalahpendidikan.com/contoh-sastra-melayu-klasik/ Diakses pada Selasa, 28 September 2021 pukul 8.01
Nurakidah, Siti. 2016. Karya Sastra Modern dan klasik. http://sitinurakidah311.blogspot.com/2016/03/karya-sastra-modern-dan-klasik.html?m=1.
Diakses pada 28 September 2021 pukul 7.40
Hadimadja Aoh K. 1972. Aliran-aliran Klasik, Romantik dan Realisma dalam Kesusastraan: dasar-dasar perkembangannja. Djakarta: Pustaka Jaya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

π•³π–†π–π–Žπ–π–†π–™ π•Ύπ–†π–˜π–™π–—π–†

π•»π–šπ–Žπ–˜π–Ž

Interpretasi Sastra