Prosa

π”π”žπ”­π”¬π”―π”žπ”« π”…π”žπ” π”žπ”žπ”« π”“π”’π”«π”€π”žπ”«π”±π”žπ”― π”“π”’π”«π”€π”¨π”žπ”§π”¦π”žπ”« π”¨π”’π”°π”²π”°π”žπ”°π”±π”―π”žπ”žπ”« (7)
𝔒𝔩𝔒π”₯ :
• π”‘π”žπ”ͺπ”ž : 𝔄π”ͺπ”’π”©π”¦π”ž π”œπ”²π”«π”¦π”·π”ž 𝔓𝔲𝔱𝔯𝔦
• 𝔑ℑ𝔐 : 21016057
• 𝔇𝔬𝔰𝔒𝔫 π”“π”’π”«π”€π”žπ”ͺ𝔭𝔲 : 𝔇𝔯. π”„π”Ÿπ”‘π”²π”―π”―π”žπ”₯π”ͺπ”žπ”«, 𝔐.𝔓𝔑

I. PENDAHULUAN

Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya semakin agung, serta bahasanya yang semakin berdasarkan dengan guna leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang berfaedah "terus terang". Jenis tulisan prosa kebanyakan dipergunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat dipergunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta bermacam jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi kebiasaan barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang tidak terikat tanpa aturan apa pun.

II. PEMBAHASAN

A. Unsur intrinsik fiksi

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya satra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.
Adapun unsur intrinsik fiksi terdiri atas :

a. Tema

Tema, yaitu suatu yang menjadi pokok masalah atau persoalan sebagai bahan karangan, yang diungkapkan dalam suatu cerita oleh pengarang. Tema prosa fiksi terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Sedangkan untuk cerpen (cerita pendek) hanya memiliki  tema utama saja.

b. Amanat

Amanat, yaitu pesan-pesan yang disampaikan oleh si pengarang melalui cerita yang digubahnya. Si pengarang menyampaikan amanatnya dengan dua cara, yaitu Secara eksplisit (terang-terangan): Pembaca dengan mudah menemukannya. Secara implisit (tersirat/tersembunyi): Untuk menemukan amanat dalam hal ini, pembaca agak sukar menemukannya, terlebih dulu pembaca hendaknya membaca secara keseluruhan isi cerita tersebut.

c. Alur/plot

Alur/plot, yaitu urutan atau kronologi peristiwa yang dilukiskan pengarang dalam suatu cerita yangmana alur terjalin dengan alur yang lainnya.

d. Tokoh

Tokoh, yaitu pelaku di dalam cerita dan mengambil peranan dalam setiap insiden-insiden.

e. Penokohan
Penokohan (Perwatakan), yaitu pelukisan watak atau karakter dari para tokoh di dalam cerita.

f.  Latar/Setting

Latar (setting), yaitu lingkungan (tempat/lokasi, waktu, dan suasana) terjadinya suatu peristiwa di dalam cerita.
Tempat      :  umpamanya di rumah sakit, daerah wisata, dan lain sebagainya.
Waktu       :  tahun, musim, masa perang, periode sejarah, dan sebagainya.
Suasana     :  aman, damai, gawat, berduka, kacau, galau, dan sebagainya.

f. Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view), yaitu status atau kedudukan si pengarang dalam cerita. Ada empat macam sudut pandang, antara lain. pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku utama (pengarang = aku).

Pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku sampingan. Pengarang berada di luar cerita sebagai orang ketiga;
kombinasi atau campuran, kadang-kadang di dalam dan kadang-kadang di luar cerita.

g. Gaya Bahasa

Gaya Bahasa (Majas) disebut juga “langgam, corak, bentuk, atau style bahasa” yaitu cara yang digunakan oleh si pengarang untuk mengungkapkan maksud dan dan tujuannya baik dalam bentuk kata, kelompok kata, atau kalimat. Jadi, gaya bahasa atau majas meliputi; kata, frasa atau kelompok kata, kalimat (struktur) biasa/majas. Gaya bahasa atau majas adalah ibarat kendaraaan bagi seseorang pengarang yang akan membawanya kemana arah tujuan yang ingin ditujunya.

B. Fakta Cerita

Karakter, alur dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Jika dirangkum menjadi satu, semua elemen ini dinamakan “struktur faktual” atau “tingkatan faktual” cerita. Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual adalah cerita yang disorot dari satu sudut pandang (Stanton, 2007: 22).

a. Karakter  

Karakter dapat berarti tokoh sentral (central character) yaitu berhubungan dengan peristiwa dalam cerita. Biasanya peristiwa-peristiwa itu
menimbulkan perubahan, baik dalam diri tokoh maupun dalam sikap pembaca terhadap tokoh itu. Dikemukakan pula oleh Stanton bahwa
karakter biasanya dipakai dalam dua konteks; konteks pertama , karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita; konteks kedua, karakter merujuk percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi,
dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Pada sebagian besar cerita dapat ditemui satu karakter utama, yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Adanya pembagian karakter menjadi dua konteks tersebut, setidaknya dapat menganalisis dan mengamati tokoh cerita atau karakter dengan merujuk pada dua hal, yakni antara individu-individu yang muncul dalam cerita, dan pada percampuran berbagai kepentingan dari individu-individu tersebut sehingga bisa ditemukan karakter atau tokoh utama. Stanton beralasan bahwa tokoh mengejakan apa yang harus dikerjakan yang

disebut motivasi (motivation). Sikap tokoh terhadap suatu pembicaraan atau
tindakan, mungkin tidak disadari, disebut motivasi khusus (specific
motivation), sedangkan segala aspek atau perhatian terus menerus yang
mengatur tokoh mulai cerita disebut motivasi dasar (basic motivation)
(Stanton, 2012:33).

b. Alur  

Alur adalah rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah
alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang menjadi dampak dari
berbagai peristiwa yang lain dan tidak dapat diabaikan, karena akan
berpengaruh pada keseluruhan karya.
Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-
elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendiri, meskipun jarang diulas
panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan seutuhnya
dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang
mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya
(Stanton, 2012: 28). Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur memiliki
hukum-hukum sendiri; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan
akhir yang nyata, meyakinkan dan logis, dapat menciptakan bermacam
kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan.

c. Latar 

Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita
yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung
(Stanton, 2007: 35). Deskripsi-deskripsi latar kerap membuat jengkel
pembaca karena mereka cenderung ingin langsung menuju inti cerita. Latar
memiliki daya untuk memunculkan tone dan mood emosional yang
melingkupi sang karakter.

C. Sarana cerita

Sarana-saranacerita dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna (Robert Stanton 2007: 46). Beberapa sarana dapat ditemukan dalam setiap cerita seperti kkonflik klimaks, tone, dan gaya, dan sudut pandang.

a. Judul 

Judul tidak selalu relevan terhadap karya yang diampunya, namun penting
bagi kita untuk selalu waspada bila judul tersebut mengacu pada satu detail
yang tidak menonjol. Judul semacam ini acap kali (terutama sekali dalam
cerpen) menjadi penunjuk makna cerita bersangkutan (Robert Stanton, 2007:
51).

b. Sudut Pandang 

Berdasarkan tujuannya, sudut pandang terbagi menjadi empat tipe utama.
Kombinasi dan variasi dari keempat tipe tersebut bisa sangat tidak terbatas.
Keempat tipe sudut pandang tersebut adalah sebagai berikut:
1) Sudut pandang “orang pertama-utama”, sang karakter utama bercerita
dengan kata-katanya sendiri.
2) Sudut pandang “orang pertama-sampingan”, cerita dituturkan oleh satu
karakter bukan utama (sampingan).
3) Sudut pandang “orang ketiga-terbatas”, pengarang mengacu pada semua
karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dapat dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu
orang karakter saja.
4) Sudut pandang “orang ketiga-tidak terbatas”, pengarang mengacu pada
setiap karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga
dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau berpikir atau
saat ketika tidak ada satu karakter pun hadir.
Terkadang sudut pandang digambarkan melalui dua cara yaitu
“subjektif” dan “objektif”. Dikatakan subjektif ketika pengarang langsung
menilai atau menafsirkan. Sedangkan dikatakan objektif, pengarang
menghindari usaha menampakkan gagasan-gagasan dan emosi-emosi
(Stanton, 2007: 54-55).

c. Gaya dan Tone

Gaya dalam sastra adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama,hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. 

Perbedaan tersebut secara umum terletakpada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan,

ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya
imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar
tertentu) akan menghasilkan gaya. Gaya juga bisa terkait dengan maksud
dan tujuan sebuah cerita (Stanton, 2007: 61).

d. Simbolisme 

Gagasan dan emosi terkadang tampak nyata bagaikan fakta fisis. Padahal
sejatinya kedua hal tersebut tidak dapat dilihat dan sulit dilukiskan. Pada
dunia fiksi, simbolisme memunculkan tiga efek yang masing-masing
bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan.  

e. Ironi

Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa
sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya.

D. Tema

Tema adlah ide sebuah cerita, pengarang dalam menulis ceritanya bukan
sekedar memberi cerita, tetapi akan mengatakan sesuatu kepada pembaca.
Sedangkan tema menurut Robert Stanton, merupakan aspek cerita yang sejajar
dengan “makna‟ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu
pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007: 36). Tema membuat cerita menjadi
lebih mengerucut, berdampak, menyatu dan lebih fokus. Dan tema memberikan
koherensi dan makna pada fakta-fakta cerita.
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Intepretasi yang baik hendaknya selalu mempertimbangkan berbagai
detail yang menonjol dalam sebuah cerita. Kesalahan terbesar sebuah
analisis adalah terpaku pada tema yang mengabaikan, melupakan atau
tidak merangkum beberapa kejadian yang tampak jelas.
b. Interpretasi yang baik hendaknya tidak terpengaruh oleh berbagai detail
cerita yang sangat berkontradiksi.
c. Interpretasi yang baik hendaknya tidak sepenuhnya bergantung pada
bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya disebut secara
implisit).
d. Interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh
cerita bersangkutan.

III. PENUTUP

Prosa adalah karya yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu cerita, ide, atau fakta. Prosa merupakan tulisan-tulisan yang banyak ditemui di surat kabar, majalah, novel, serta berbagai jenis media lainnya.

Berbeda dengan puisi, prosa tidak terikat oleh rima dankemerduan bunyi. Jumlah karater dan cara penulisan prosa juga jauh lebih bebas dibanding puisi.

Prosa adalah bentuk biasa dari bahasa lisan atau tulisan. Prosa berasal dari bahasa Latin "prosa oratio," yang berarti "lugas". Prosa berarti bahasa yang mengikuti pola alami yang ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Prosa adalah tulisan yang memiliki banyak fungsi dan keunggulan.


DAFTAR PUSTAKA

Sendari, Anugrah Ayu. 2021. Prosa adalah Karya Berbentuk Cerita, Kenali Jenis dan Bentuknya. https://m.liputan6.com/hot/read/4562312/prosa-adalah-karya-berbentuk-cerita-kenali-jenis-dan-bentuknya. Diakses pada Selasa 5 Oktober 2021.

Wisono, Roni. 2016. ANALISIS FAKTA CERITA, SARANA SASTRA,
DAN TEMA DALAM KUMPULAN CERPEN
SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU
KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA. Skripsi.

Ensiklopedia, Dunia. http://p2k.itbu.ac.id/ind/3055-2950/Prosa_34831_itbu_prosa-itbu.html. diakses pada Selasa 5 Oktober 2021.

Dunia Pendidikan. 2021. "Pengertian Prosa". https://duniapendidikan.co.id/prosa-adalah/. Diakses pada Selasa 5 Oktober 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π•³π–†π–π–Žπ–π–†π–™ π•Ύπ–†π–˜π–™π–—π–†

π•»π–šπ–Žπ–˜π–Ž

Interpretasi Sastra